trecsrealestateschool – Bayangkan suatu hari membuka aplikasi pemerintah bukan untuk mengisi formulir yang panjangnya seperti tugas akhir, tetapi cukup mengetik:
“Saya baru punya anak. Bantuan pemerintah apa saja yang bisa saya dapat?”
AI kemudian mencari program yang sesuai, menjelaskan syaratnya, menemukan dokumen yang dibutuhkan dan pada tahap berikutnya bahkan membantu melakukan pengajuan.
Tidak ada tagihan bulanan.
Tidak perlu membeli paket premium.
Tidak ada pemberitahuan yang tiba-tiba mengatakan kuota AI hari ini sudah habis.
Kalau rencana pemerintah Korea Selatan berjalan sesuai jadwal, pengalaman seperti itu mulai menjadi kenyataan dalam beberapa bulan ke depan.
Korea Selatan sedang menyiapkan proyek bernama AI for All, atau dalam bahasa Korea disebut Modu-ui AI, yang secara sederhana berarti “AI untuk Semua”.
Tujuannya cukup ambisius.
Pemerintah ingin menyediakan chatbot berbasis artificial intelligence yang dapat digunakan seluruh masyarakat secara gratis dan tanpa batas penggunaan untuk fungsi intinya.
Bukan hanya chatbot yang menjawab pertanyaan seperti ChatGPT.
Pemerintah Korea Selatan juga ingin mengembangkan AI agent yang nantinya dapat membantu masyarakat mencari, memahami dan mengakses berbagai layanan publik.
Proyek tersebut sekarang sudah masuk tahap yang jauh lebih konkret.
Pada 28 Agustus 2026, Kementerian Ilmu Pengetahuan dan ICT Korea Selatan atau Ministry of Science and ICT mengumumkan tiga konsorsium yang akan membangun layanan tersebut.
Mereka dipimpin oleh SK Telecom, Kakao dan KT.
Rencananya, pemerintah menandatangani perjanjian dengan ketiga konsorsium pada September.
Versi beta ditargetkan mulai tersedia setelah itu.
Kemudian sebelum 2026 berakhir, Korea Selatan ingin membawa layanan AI gratis tersebut kepada masyarakat secara nasional.
Kalau proyek ini berhasil, Korea Selatan tidak hanya akan mempunyai chatbot lokal.
Negara tersebut sedang mencoba sesuatu yang jauh lebih besar:
menjadikan AI seperti layanan dasar digital yang bisa digunakan siapa saja.
Pemerintah Korea Selatan Ingin AI Bisa Dipakai Semua Orang
Ide dasar program ini sebenarnya sederhana.
AI sekarang semakin penting.
Pelajar menggunakannya untuk belajar.
Pekerja menggunakannya untuk menulis dokumen.
Programmer menggunakannya untuk coding.
Pengusaha menggunakannya untuk analisis.
Orang biasa menggunakannya untuk mencari resep, membuat itinerary sampai memahami surat administratif.
Masalahnya, kemampuan AI terbaik sering berada di balik layanan berbayar.
ChatGPT mempunyai paket berbayar.
Claude mempunyai paket premium.
Gemini memiliki layanan dengan fitur berbayar.
Versi gratis memang tersedia, tetapi biasanya memiliki batas penggunaan, akses model tertentu atau prioritas komputasi yang lebih rendah.
Pemerintah Korea Selatan melihat persoalan tersebut bukan sekadar masalah kenyamanan.
Mereka melihatnya sebagai potensi kesenjangan digital baru.
Menurut data yang dikutip Kementerian Ilmu Pengetahuan dan ICT Korea Selatan, sekitar dua pertiga masyarakat Korea telah menggunakan layanan AI.
Sekitar 23 juta orang tercatat menggunakan generative AI berdasarkan survei penggunaan internet 2025.
Tetapi artinya masih ada sekitar sepertiga masyarakat yang belum menggunakan teknologi tersebut.
Pemerintah khawatir perbedaan kemampuan menggunakan AI nantinya berubah menjadi perbedaan produktivitas.
Orang yang mampu menggunakan AI bekerja lebih cepat.
Belajar lebih cepat.
Mencari informasi lebih cepat.
Sementara orang yang tidak mempunyai akses tertinggal.
Karena itu pemerintah Korea Selatan mulai melihat kemampuan menggunakan AI hampir seperti kemampuan dasar baru.
AI Dianggap seperti Kalkulator di Era Digital
Kementerian Ilmu Pengetahuan dan ICT Korea Selatan menggunakan analogi yang menarik.
Menurut pemerintah, AI harus dapat digunakan masyarakat semudah menggunakan kalkulator.
Pesannya cukup jelas.
Dulu seseorang mungkin perlu kemampuan berhitung manual untuk menyelesaikan berbagai masalah.
Kemudian kalkulator datang.
Teknologi tersebut tidak menggantikan seluruh kemampuan manusia, tetapi membuat pekerjaan tertentu jauh lebih cepat.
Pemerintah Korea Selatan melihat AI sedang bergerak menuju posisi serupa.
AI bukan lagi teknologi yang hanya digunakan engineer atau peneliti.
Ia perlahan menjadi alat sehari-hari.
Dalam pernyataan resminya, Menteri Ilmu Pengetahuan dan ICT Bae Kyung-hoon bahkan menggambarkan AI for All sebagai “kalkulator dan komputer pada era AI” yang memungkinkan masyarakat bekerja, belajar dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan bantuan AI.
Kalau analogi tersebut benar, pemerintah Korea tidak ingin kemampuan menggunakan AI akhirnya ditentukan oleh siapa yang mampu membayar langganan bulanan.
Gratis, tetapi Bukan Sekadar Bagi-Bagi Akun ChatGPT
Ini detail penting.
Pemerintah Korea Selatan tidak sedang membeli jutaan akun ChatGPT lalu memberikannya kepada masyarakat.
Justru strateginya berkebalikan.
AI for All dirancang menggunakan model AI yang dikembangkan di Korea Selatan.
Dalam ketentuan proyek, setidaknya 50 persen sistem harus menggunakan model AI domestik yang memenuhi standar sovereign foundation model pemerintah.
Bahkan terdapat aturan tambahan.
Perusahaan yang mengembangkan layanan tidak boleh hanya menggunakan model miliknya sendiri.
Sedikitnya sekitar 30 persen penggunaan model domestik harus berasal dari perusahaan Korea lainnya.
Tujuannya agar proyek tidak berubah menjadi subsidi besar kepada satu pemain teknologi saja.
Pemerintah ingin membentuk ekosistem.
Model asing tetap boleh digunakan dalam kondisi tertentu, tetapi hanya ketika memang dibutuhkan dan tidak ada alternatif domestik yang memadai.
Untuk bagian sistem yang menggunakan AI asing tersebut, pemerintah tidak memberikan dukungan pendanaan yang sama.
Jadi ada agenda yang lebih besar di balik kata “gratis”.
Korea Selatan ingin mengurangi ketergantungan kepada AI Amerika Serikat.
ChatGPT Sangat Populer di Korea Selatan
Keinginan mengurangi ketergantungan tersebut bukan muncul tanpa alasan.
ChatGPT punya posisi sangat kuat di Korea Selatan.
Data Wiseapp yang dikutip pemerintah menunjukkan pada April 2026, ChatGPT mempunyai sekitar 23,45 juta monthly active users di Korea Selatan.
Gemini berada di sekitar 8,45 juta pengguna aktif bulanan.
Claude sekitar 2,41 juta.
Angka tersebut menunjukkan sesuatu yang menarik.
Korea Selatan terkenal sebagai rumah Samsung, SK, Naver, Kakao dan berbagai perusahaan teknologi besar.
Tetapi ketika berbicara generative AI konsumen, layanan dari perusahaan Amerika tetap mendominasi.
Pemerintah melihat situasi tersebut sebagai risiko.
Hari ini versi gratis tersedia.
Besok perusahaan pemiliknya bisa mengubah aturan.
Kuota bisa dikurangi.
Harga paket premium bisa naik.
Sebuah layanan bisa dihentikan.
Model tertentu bisa dipindahkan ke tier berbayar.
Karena infrastrukturnya bukan milik Korea Selatan, pemerintah tidak mempunyai kendali besar terhadap keputusan tersebut.
Maka lahirlah ide membangun alternatif nasional.
SK Telecom, Kakao dan KT Resmi Terpilih
Proyek AI for All awalnya membuka seleksi terhadap perusahaan swasta.
Enam konsorsium mengajukan proposal.
Setelah evaluasi dokumen, demonstrasi prototipe hingga penilaian mengenai keamanan dan kualitas layanan, pemerintah akhirnya memilih tiga tim.
Masing-masing dipimpin oleh SK Telecom, Kakao dan KT.
Pemilihan ketiganya cukup menarik karena masing-masing mempunyai kekuatan berbeda.
SK Telecom memiliki jaringan telekomunikasi serta pengalaman mengembangkan layanan AI seperti A.Dot.
KT mempunyai basis pengguna telekomunikasi, IPTV dan berbagai layanan digital.
Sementara Kakao mempunyai salah satu ekosistem digital paling besar di Korea Selatan melalui KakaoTalk dan berbagai layanan lainnya.
Artinya pemerintah tidak hanya memilih perusahaan yang bisa membuat model AI.
Mereka memilih perusahaan yang sudah mempunyai jalan menuju jutaan pengguna.
Ini penting.
Model AI secanggih apa pun tidak banyak berarti kalau masyarakat kesulitan mengaksesnya.
Pemerintah Korea Siapkan 512 GPU Nvidia B200
Lalu siapa yang membayar komputasinya?
Ini bagian mahalnya.
Menjalankan generative AI untuk puluhan juta orang membutuhkan kekuatan komputasi yang sangat besar.
Setiap pertanyaan yang dikirim pengguna membutuhkan server.
Server membutuhkan GPU.
GPU membutuhkan listrik.
Pendinginan membutuhkan energi.
Semua itu membutuhkan uang.
Pada tahap awal, pemerintah Korea Selatan akan menyediakan total 512 unit GPU Nvidia B200 untuk mendukung proyek tersebut.
B200 termasuk accelerator AI kelas pusat data yang dirancang untuk menjalankan training dan inference model berskala besar.
Dengan kata lain, pemerintah bukan sekadar mengatakan kepada perusahaan:
“Buat AI gratis.”
Mereka ikut menyediakan salah satu sumber daya paling mahal dalam industri AI modern.
Mulai 2027, pemerintah juga berencana menggunakan anggaran nasional untuk membantu menutup biaya operasional layanan bagi masyarakat.
Inilah bagian yang membuat proyek Korea Selatan cukup berbeda dibandingkan sekadar perusahaan teknologi memberikan free trial.
Negara ikut membiayai infrastrukturnya.
Apakah Benar-benar Tidak Ada Batas Pemakaian?
Secara konsep, pemerintah memang mengatakan layanan chatbot umum akan tersedia gratis tanpa usage limit.
Namun ada sedikit nuansa yang perlu dipahami.
Dalam penjelasan lanjutan pada Juli, pemerintah menegaskan bahwa fungsi inti harus tetap tersedia gratis bahkan ketika penggunaan melewati sumber daya GPU yang disediakan pemerintah.
Artinya, perusahaan peserta tidak boleh hanya memberikan gratis sampai subsidi komputasinya habis kemudian seluruh layanan berubah menjadi berbayar.
Fungsi esensial tetap harus tersedia.
Tetapi bukan berarti seluruh fitur premium masa depan pasti gratis selamanya.
Perusahaan masih diperbolehkan mengembangkan model bisnis sendiri.
Misalnya ada layanan tambahan, fitur khusus bisnis atau kemampuan premium yang dapat dimonetisasi.
Jadi lebih tepat mengatakan:
Korea Selatan menjamin akses gratis terhadap fungsi dasar AI nasional, bukan menjanjikan seluruh layanan AI apa pun akan gratis selamanya.
Perbedaannya cukup penting.
Dari Chatbot Menuju AI Agent
Kalau program ini hanya berhenti pada chatbot, sebenarnya Korea Selatan hanya membuat alternatif lokal ChatGPT.
Tetapi pemerintah punya rencana lebih jauh.
Target jangka panjangnya adalah satu AI agent untuk setiap warga.
Chatbot menjawab.
Agent bertindak.
Bedanya sederhana tetapi besar.
Bayangkan Anda meminta chatbot:
“Carikan perjalanan dua hari satu malam ke Busan.”
Chatbot akan memberikan itinerary.
Tetapi AI agent generasi berikutnya diharapkan dapat melanjutkan:
memilih jadwal,
mencari tiket,
melakukan pemesanan,
bahkan membantu pembayaran sesuai otorisasi pengguna.
Pemerintah menggunakan contoh serupa dalam dokumen resminya untuk menjelaskan arah perkembangan layanan setelah 2027.
Untuk pelayanan publik, aplikasinya bahkan lebih menarik.
AI bisa memberitahu masyarakat:
“Kamu memenuhi syarat mendapatkan bantuan ini.”
Kemudian agent membantu mencari dokumen.
Mengisi informasi.
Mengarahkan proses pengajuan.
Bukan warga yang harus mencari informasi pemerintah.
AI yang datang membawa informasinya.
Pemerintah Juga Ingin AI Membantu Urusan Administrasi
Korea Selatan sudah terkenal dengan layanan digital pemerintah yang cukup maju.
Tetapi birokrasi tetap mempunyai satu masalah universal.
Informasi tersebar.
Ada banyak program.
Banyak syarat.
Banyak formulir.
Tidak semua masyarakat memahami harus mencari ke mana.
AI for All ingin mengubah pola tersebut.
Salah satu komponen program adalah public AI agent.
Sistem tersebut dirancang membantu masyarakat menemukan layanan publik dan pada tahap selanjutnya menangani proses aplikasi.
Kemudian pada 25 Agustus 2026, pemerintahan Presiden Lee Jae-myung juga membahas strategi untuk membangun pemerintahan demokratis berbasis AI.
Rencananya mencakup layanan konsultasi AI 24 jam serta personal AI public assistant.
Dua kebijakan tersebut memperlihatkan pola yang sama.
Korea tidak melihat AI hanya sebagai industri.
AI sedang dimasukkan ke cara negara memberikan pelayanan.
Korea Selatan Sedang Mengejar Sovereign AI
Di balik AI gratis, ada satu istilah yang semakin sering muncul:
sovereign AI.
Konsepnya kurang lebih adalah kemampuan sebuah negara mempunyai kendali terhadap infrastruktur, model, data dan ekosistem AI yang penting bagi kepentingannya sendiri.
Bayangkan kalau puluhan juta masyarakat menggunakan satu AI asing untuk bekerja.
Sekolah menggunakannya.
Perusahaan menggunakannya.
Instansi pemerintah menggunakannya.
Kemudian seluruh kemampuan tersebut bergantung pada perusahaan di negara lain.
Dalam dunia geopolitik teknologi, ketergantungan sebesar itu dianggap berisiko.
Itulah mengapa Korea Selatan tidak sendirian.
Berbagai negara mulai berbicara tentang national AI infrastructure, sovereign cloud dan sovereign models.
Tetapi Korea mengambil pendekatan yang menarik:
membuat model lokal tersebut benar-benar dipakai masyarakat.
Bukan sekadar membangun model nasional yang kemudian hanya menjadi bahan konferensi.
Gratis Bisa Menjadi Senjata Melawan Big Tech Amerika
Di sini strategi pemerintah Korea menjadi cukup pintar.
Ada alasan ChatGPT dan Gemini begitu cepat mendapatkan pengguna.
Mereka bisa dicoba gratis.
Orang masuk.
Menggunakannya.
Terbiasa.
Kemudian sebagian akhirnya membayar.
Kalau perusahaan AI Korea hanya menawarkan produk berbayar sejak hari pertama, mereka harus melawan produk global yang sudah mempunyai brand jauh lebih kuat.
Pemerintah mencoba menghilangkan hambatan itu.
Gratis.
Tidak dibatasi hanya untuk kelompok tertentu.
Diberikan kepada seluruh masyarakat.
Jika puluhan juta orang Korea kemudian menggunakan AI domestik setiap hari, perusahaan lokal mendapatkan sesuatu yang sangat berharga:
pengguna.
Feedback.
Traffic.
Pengalaman menjalankan AI dalam skala besar.
Dan kemungkinan pengembangan model berdasarkan penggunaan dunia nyata.
Ini bukan sekadar program sosial.
Ini juga merupakan kebijakan industri.
Prompt Pengguna Bisa Jadi Sumber Nilai Ekonomi
Ada satu bagian dari rencana pemerintah yang akan menarik perhatian soal privasi.
MSIT menyebut perusahaan peserta diharapkan mengembangkan model bisnis sendiri, termasuk kemungkinan memanfaatkan data prompt pengguna yang dikumpulkan ketika layanan digunakan, sehingga layanan dapat berkembang menjadi ekosistem yang berkelanjutan.
Nah, di sinilah pertanyaan berikutnya muncul.
Gratis memang menyenangkan.
Tetapi bagaimana data masyarakat digunakan?
Apakah prompt digunakan untuk training?
Apakah akan dianonimkan?
Berapa lama data disimpan?
Apakah percakapan mengenai layanan publik dipisahkan dari data komersial?
Siapa yang bisa mengaksesnya?
Pertanyaan ini menjadi sangat penting ketika layanan digunakan oleh jutaan masyarakat dan semakin terhubung dengan administrasi pemerintah.
AI gratis membutuhkan biaya.
Kalau salah satu sumber nilai ekonominya adalah data, aturan privasinya harus sangat jelas.
Tantangan Besarnya: Orang Korea Sudah Terbiasa dengan ChatGPT
Memberikan layanan gratis tidak otomatis membuat masyarakat pindah.
Ini tantangan terbesar AI for All.
ChatGPT sudah mempunyai puluhan juta pengguna Korea.
Masyarakat sudah memahami interface-nya.
Pelajar terbiasa menggunakannya.
Perusahaan memasukkannya ke workflow.
Programmer mempunyai kebiasaan sendiri.
Begitu seseorang sudah nyaman dengan sebuah platform, membuatnya pindah tidak mudah.
Inilah mengapa kualitas AI lokal akan menentukan segalanya.
Kalau gratis tetapi jawabannya buruk, masyarakat akan kembali ke ChatGPT.
Kalau gratis tetapi lambat, mereka pindah.
Kalau gratis tetapi sering halusinasi, orang kehilangan kepercayaan.
Kalau gratis dan kualitasnya mendekati model global, ceritanya berbeda.
Korea bisa mulai menciptakan kebiasaan penggunaan AI lokal.
Model Lokal Punya Satu Keunggulan Besar: Korea
Ada satu medan tempat AI domestik seharusnya mempunyai keunggulan.
Bahasa dan konteks Korea.
Model global semakin baik memahami bahasa Korea.
Tetapi model domestik dapat dikembangkan menggunakan konteks lokal yang jauh lebih dalam.
Administrasi pemerintahan Korea.
Sistem pendidikan.
Istilah hukum.
Budaya.
Bahasa informal.
Dialek.
Konteks bisnis.
Dokumen publik.
Kalau dikembangkan dengan benar, AI lokal tidak harus mengalahkan ChatGPT pada semua benchmark dunia.
Ia hanya perlu menjadi sangat bagus ketika digunakan masyarakat Korea untuk kehidupan sehari-hari.
Ini strategi yang masuk akal.
Tidak perlu menjadi pisau terbaik di dunia kalau tujuan Anda adalah membuat pisau yang paling cocok untuk dapur sendiri.
Kakao Bisa Membawa AI ke Kehidupan Sehari-hari
Keterlibatan Kakao membuat proyek ini semakin menarik.
KakaoTalk bukan sekadar aplikasi chatting di Korea Selatan.
Ia hampir menjadi infrastruktur sosial digital.
Masyarakat menggunakannya untuk komunikasi, pembayaran, bisnis dan berbagai aktivitas lainnya.
Kalau layanan AI for All suatu hari terintegrasi dengan ekosistem seperti ini, hambatan adopsinya bisa sangat rendah.
Orang tidak perlu belajar menggunakan aplikasi asing.
AI berada di tempat mereka sudah menjalani kehidupan digital sehari-hari.
KT juga merencanakan integrasi layanan melalui berbagai kanal telekomunikasi serta platform media termasuk IPTV.
Pemerintah menyebut konsorsium KT juga menawarkan layanan khusus untuk kebutuhan sehari-hari seperti pendidikan dan real estate.
Jadi perang berikutnya mungkin bukan sekadar AI mana yang paling pintar.
Tetapi AI mana yang paling dekat dengan kehidupan pengguna.
Beta Ditargetkan Mulai Akhir September
Timeline pemerintah Korea cukup agresif.
Proyek diumumkan pada Juli.
Seleksi dilakukan Agustus.
Tiga konsorsium diumumkan 28 Agustus.
Perjanjian direncanakan pada September.
Versi beta ditargetkan diluncurkan mulai sekitar akhir September.
Kemudian layanan nasional harus tersedia sebelum akhir 2026.
Artinya, dalam hitungan beberapa bulan masyarakat Korea seharusnya sudah bisa mencoba seperti apa AI nasional gratis tersebut.
Tahap beta akan sangat penting.
Di sanalah publik mulai melihat apakah proyek ini sekadar ambisi pemerintah atau benar-benar mampu bersaing dengan platform global.
Kecepatan.
Kualitas jawaban.
Keamanan.
Kemampuan bahasa.
Privasi.
Stabilitas server.
Semuanya akan diuji.
Kalau Berhasil, Negara Lain Bisa Meniru
Ini mungkin bagian paling menarik bagi kita yang berada di luar Korea Selatan.
Bagaimana kalau model seperti ini berhasil?
Bayangkan sebuah negara menganggap AI sebagai infrastruktur publik digital.
Pemerintah menyediakan komputasi.
Perusahaan lokal membuat model.
Masyarakat mendapatkan akses gratis.
Kemudian AI dihubungkan dengan layanan pemerintah.
Konsep tersebut sangat mungkin ditiru.
Negara berkembang bahkan mempunyai alasan lebih besar.
Ketika langganan AI premium sekitar US$20 per bulan, biayanya bisa terasa kecil bagi pekerja di negara maju.
Tetapi di banyak negara, US$20 merupakan pengeluaran yang signifikan.
Akibatnya AI berisiko menciptakan kelas baru.
Mereka yang mampu membayar mendapatkan model terbaik dan produktivitas lebih tinggi.
Mereka yang tidak mampu hanya mendapatkan fitur terbatas.
Korea Selatan sedang mencoba mencegah jurang tersebut sejak awal.
Tetapi AI Gratis Tetap Dibayar Seseorang
Ada satu fakta ekonomi yang tidak bisa dihilangkan oleh kata “gratis”.
Server tidak gratis.
GPU tidak gratis.
Listrik tidak gratis.
Engineer tidak gratis.
Data center tidak gratis.
Jadi ketika pemerintah mengatakan AI gratis bagi masyarakat, artinya biayanya dipindahkan.
Dalam kasus Korea Selatan, sebagian biaya akan ditanggung melalui fasilitas komputasi pemerintah dan kemudian anggaran nasional mulai 2027.
Pada satu sisi, itu bisa dianggap investasi publik.
Seperti pemerintah membangun jalan agar masyarakat dan bisnis bisa bergerak lebih produktif.
Pada sisi lain, hasilnya harus dievaluasi.
Berapa banyak masyarakat benar-benar menggunakan layanan?
Berapa biaya per pengguna?
Apakah meningkatkan produktivitas?
Apakah bisnis lokal mendapatkan manfaat?
Apakah kualitasnya mampu mengejar produk global?
Kalau jawabannya tidak, proyek tersebut bisa berubah menjadi data center mahal yang dibayar pembayar pajak.
Korea Tidak Sedang Membagikan ChatGPT Gratis, Mereka Sedang Membangun Alternatif
Ini bagian yang paling penting untuk tidak salah dibaca.
Kabar “pemerintah Korea memberikan AI gratis” memang benar secara garis besar.
Tetapi bentuknya bukan pemerintah membayar langganan ChatGPT Plus seluruh rakyat.
Justru Korea Selatan sedang membangun alternatif nasional.
SK Telecom, Kakao dan KT sudah dipilih.
Model Korea wajib mendominasi sistem.
Pemerintah menyediakan GPU Nvidia B200.
Fungsi inti dirancang gratis tanpa batas penggunaan.
Public AI agent akan terhubung dengan layanan pemerintah.
Dan mulai 2027 biaya operasi nasional akan didukung melalui anggaran pemerintah.
Kalau berjalan sesuai jadwal, layanan tersebut mulai muncul dalam versi beta pada akhir September dan diluncurkan secara luas sebelum 2026 berakhir.
Jadi Korea Selatan tidak hanya sedang mengejar ChatGPT.
Mereka sedang menguji sebuah gagasan baru.
Bahwa pada era ketika AI menentukan seberapa cepat seseorang bekerja, belajar dan mengakses informasi, kemampuan menggunakan AI mungkin tidak seharusnya menjadi barang mewah.
Dulu internet menjadi kebutuhan.
Kemudian smartphone.
Cloud.
Sekarang AI.
Dan Korea Selatan sedang bertaruh bahwa akses AI akan menjadi infrastruktur dasar berikutnya.
Kalau eksperimen tersebut berhasil, pertanyaan yang muncul mungkin bukan lagi:
“Kenapa Korea memberikan AI gratis?”
Pertanyaannya justru akan berubah menjadi:
berapa lama sebelum negara lain melakukan hal yang sama?
Referensi
Ministry of Science and ICT Korea – “Selected Consortiums Announced for AI for All Project”, 28 Agustus 2026. Pemerintah Korea Selatan menetapkan konsorsium yang dipimpin SK Telecom, Kakao dan KT sebagai pelaksana program AI for All.
https://www.msit.go.kr/eng/bbs/view.do?bbsSeqNo=42&mId=4&mPid=2&nttSeqNo=1300&sCode=eng
Ministry of Science and ICT Korea – “MSIT Begins AI for All Project to Offer AI Services through a Sovereign AI Model”, Juli 2026. Memuat ketentuan layanan gratis tanpa batas penggunaan, penggunaan model AI Korea, dukungan 512 GPU Nvidia B200 serta rencana pendanaan mulai 2027.
https://www.msit.go.kr/eng/bbs/view.do?bbsSeqNo=42&mId=4&mPid=2&nttSeqNo=1285&sCode=eng
Korea.net – “Pemerintah Korea Akan Luncurkan AI Untuk Semua dalam Tahun 2026”, 14 Juli 2026. Situs resmi Pemerintah Republik Korea versi Indonesia menjelaskan rencana chatbot AI gratis dan public AI agent untuk masyarakat.
https://indonesian.korea.net/NewsFocus/policies/view?articleId=295896
Korea.net – “Public service AI for Everyone set for launch within this year”, 14 Juli 2026. Menjelaskan tujuan mengurangi ketergantungan terhadap AI asing serta memperkecil kesenjangan akses digital.
https://www.korea.net/NewsFocus/policies/view?articleId=295887
Yonhap News Agency – “SKT, KT, Kakao consortia selected for gov’t-led AI service project”, 28 Agustus 2026. Membahas pemilihan tiga konsorsium dan pemberian total 512 Nvidia B200 GPU untuk proyek tersebut.
https://en.yna.co.kr/view/AEN20260828002600320
Yonhap News Agency – “‘AI for All’ project: Government says essential AI will remain free”, 21 Juli 2026. Menjelaskan bahwa fungsi AI esensial harus tetap gratis meskipun penggunaan melampaui sumber daya yang disubsidi pemerintah.
https://www.yna.co.kr/amp/view/AKR20260721061700017
Korea.net – “Strategy to pursue world’s top AI-driven democratic government”, 26 Agustus 2026. Membahas strategi pemerintah Presiden Lee Jae-myung untuk layanan konsultasi AI 24 jam dan personal AI public assistant.
https://www.korea.net/NewsFocus/policies/view?articleId=298486







