Ringkasan: Gempa magnitudo 7,7 di Laut Flores berdampak pada 512 satuan pendidikan dan 94.452 murid di tujuh kabupaten NTT per 19 Agustus 2026. Kemendikdasmen menjalankan kurikulum darurat, mengirim tenda kelas darurat, dan menggandeng HIMPSI untuk pemulihan trauma agar hak belajar murid tetap terpenuhi.
Apa yang Terjadi pada Pendidikan di NTT?

Gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Laut Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Bencana ini merusak ratusan satuan pendidikan dan mengganggu proses belajar puluhan ribu murid di tujuh kabupaten Pulau Flores, sehingga Kemendikdasmen menjalankan skema pembelajaran darurat agar hak belajar murid tetap terpenuhi.
Kronologi: dari 253 Sekolah Terdampak Menjadi 512

Data dampak gempa terus diperbarui setiap hari sejak kejadian, jadi penting membedakan angka awal dan angka terkini.
Per 16 Agustus 2026, Kemendikdasmen mencatat 253 satuan pendidikan terdampak — terdiri atas 199 satuan jenjang PAUD/TK, SD, SMP, dan SKB yang menjadi kewenangan kabupaten, serta 54 satuan jenjang SMA/SMK/SLB kewenangan provinsi. Kabupaten Manggarai mencatat kerusakan terbanyak dengan 104 satuan pendidikan, disusul Manggarai Timur dengan 51 satuan.
Angka itu terus naik seiring pendataan lanjutan. Berdasarkan data Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) per 19 Agustus 2026, cakupan dampak membesar menjadi 512 satuan pendidikan di tujuh kabupaten. Dari jumlah tersebut, 52.268 murid di 276 satuan pendidikan terpaksa diliburkan sementara dan mengikuti pembelajaran dari rumah masing-masing atau titik pengungsian.
Bencana ini juga menelan korban jiwa dari lingkungan sekolah: tiga murid dan satu guru meninggal dunia, dengan rincian dua murid dan satu guru di Kabupaten Manggarai Timur serta satu murid di Kabupaten Manggarai. Secara keseluruhan, gempa ini tercatat menewaskan 53 orang, dengan 25 korban di antaranya berada di Kabupaten Manggarai.
Skala Dampak terhadap Murid dan Guru per 19 Agustus 2026

| Kategori | Jumlah | Periode Data |
|---|---|---|
| Satuan pendidikan terdampak | 512 di 7 kabupaten | 19 Agustus 2026 |
| Murid terdampak | 94.452 | 19 Agustus 2026 |
| Guru & tenaga kependidikan terdampak | 8.755 | 19 Agustus 2026 |
| Murid yang diliburkan sementara | 52.268 di 276 satuan pendidikan | 19 Agustus 2026 |
| Data awal (sebelum diperbarui) | 253 satuan pendidikan | 16 Agustus 2026 |
| Korban jiwa dari lingkungan sekolah | 3 murid, 1 guru | 18 Agustus 2026 |
Sumber: Kemendikdasmen (data SPAB), Tribunnews, selasarsurabaya.com
Langkah Kemendikdasmen Menjaga Keberlangsungan Belajar

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa keberlangsungan pembelajaran di daerah terdampak harus disesuaikan dengan kondisi lapangan, dengan keselamatan guru dan murid sebagai prioritas utama.
- Kurikulum darurat: Kemendikdasmen menerapkan sistem pembelajaran darurat dengan kurikulum darurat, sehingga jadwal dan materi belajar bisa disesuaikan dengan kondisi murid yang kehilangan tempat tinggal atau masih di pengungsian.
- Penghentian pembelajaran di ruang rusak: Sekolah diminta menghentikan kegiatan belajar mengajar di ruang kelas yang rusak dan memindahkannya ke ruang aman, tenda belajar, atau meliburkan sementara sesuai kondisi daerah.
- Panduan pembelajaran pascabencana: Melalui Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kemendikdasmen menyediakan contoh dan panduan pembelajaran pascabencana yang bisa diakses lewat laman Rumah Pendidikan.
- Koordinasi lintas pemangku kepentingan: Kemendikdasmen mengajak pemerintah daerah, dinas pendidikan, kepala sekolah, dan guru untuk bersama-sama memastikan pembelajaran tetap berjalan dengan mengedepankan keselamatan dan fleksibilitas.
Kepala BKPDM, Toni Toharudin, menegaskan bahwa satuan pendidikan, murid, dan guru terdampak bencana di NTT terus menjadi perhatian Kemendikdasmen agar hak belajar murid tetap terpenuhi meski dalam kondisi serba terbatas.
Situasi darurat semacam ini juga menjadi pengingat soal pentingnya jalur pembelajaran alternatif yang fleksibel — sesuatu yang sudah lebih dulu dibahas dalam ulasan kesenjangan pendidikan di era digital, terutama untuk daerah dengan keterbatasan akses infrastruktur seperti Flores.
Distribusi Bantuan: Tenda Darurat hingga Konektivitas Starlink

Untuk menopang keberlangsungan belajar di lapangan, Kemendikdasmen menyiapkan 50 tenda Ruang Kelas Darurat yang didistribusikan lewat dua klaster ekspedisi. Klaster pertama mencakup Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat, dengan alokasi 30 tenda, 1.000 paket family kit, 200 paket school kit umum, dan 2.000 paket school kit SMA/SMK. Bantuan ini diberangkatkan dari Surabaya pada 20 Agustus 2026 menggunakan KM Dharma Rucitra 7, dijadwalkan tiba di Labuan Bajo pada 22 Agustus 2026, dengan target pemasangan tenda mulai 23 Agustus 2026.
Tim Kemendikdasmen yang lebih dulu tiba di Labuan Bajo juga membawa 2.000 paket bingkisan anak, 800 school kit, dan 70 family kit untuk mendukung pembelajaran di masa darurat. Selain bantuan fisik, Kemendikdasmen menyiapkan dukungan konektivitas Starlink bagi wilayah yang mengalami gangguan listrik dan jaringan komunikasi, sehingga koordinasi pendataan dan distribusi bantuan tetap bisa berjalan.
Dukungan Psikososial bagi Murid dan Guru Terdampak

Bencana besar seperti ini berdampak emosional pada murid, guru, dan tenaga kependidikan. Kemendikdasmen menggandeng Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) untuk memberikan pemulihan trauma melalui Psychological First Aid (PFA) bagi warga sekolah pascabencana.
Tujuannya agar lingkungan sekolah kembali menjadi ruang aman yang mendukung pemulihan, membangun rasa percaya diri murid, dan membantu warga sekolah kembali menjalankan aktivitas belajar secara bertahap. Pendekatan menjaga semangat belajar anak di tengah kondisi sulit ini sejalan dengan prinsip yang dibahas dalam 7 cara membangun motivasi intrinsik belajar, sekaligus relevan bagi orang tua yang mendampingi anak lewat panduan 5 cara memotivasi keluarga agar anak tetap semangat.
Desakan DPR dan Peran Pemerintah Daerah

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, meminta pemerintah pusat dan daerah memastikan proses belajar mengajar bagi siswa NTT tetap berjalan meski gempa susulan masih terjadi. Ia menyarankan pembelajaran dilakukan lebih dulu di sekolah darurat, baik berupa tenda maupun sekolah lain yang tidak terdampak.
DPR RI telah membentuk Satuan Tugas Bencana yang langsung meninjau lokasi dan menyalurkan bantuan. Selain Kemendikdasmen, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi juga turut bergerak memberikan dukungan bagi jenjang pendidikan tinggi di wilayah terdampak.
Ketersediaan tenaga pengajar yang memadai juga jadi faktor penting dalam pemulihan pendidikan pascabencana, termasuk di daerah yang selama ini sudah menghadapi tantangan distribusi guru seperti yang dibahas dalam ulasan soal formasi guru Sekolah Rakyat 2026 dan rekrutmen guru Sekolah Rakyat 2026.
FAQ — Kemendikdasmen dan Pembelajaran Murid NTT
Berapa jumlah murid dan sekolah yang terdampak gempa NTT?
Per 19 Agustus 2026, sebanyak 512 satuan pendidikan di tujuh kabupaten NTT terdampak, mencakup 94.452 murid dan 8.755 guru serta tenaga kependidikan, menurut data SPAB Kemendikdasmen.
Apa itu SPAB dan mengapa datanya jadi acuan?
Apa langkah konkret Kemendikdasmen menjaga hak belajar murid?
Kemendikdasmen menerapkan kurikulum darurat, memindahkan kegiatan belajar dari ruang kelas rusak ke tenda atau ruang aman, mengirim 50 tenda Ruang Kelas Darurat, dan menyediakan panduan pembelajaran pascabencana lewat Rumah Pendidikan.
Kapan pembelajaran normal diperkirakan kembali berjalan?
Kemendikdasmen belum menetapkan tenggat pasti karena masih menunggu hasil verifikasi kerusakan dan Perjanjian Kerja Sama pemulihan fasilitas, yang ditargetkan berlangsung pada pekan setelah 18 Agustus 2026.
Ditulis oleh Tim Redaksi Pendidikan, trecsrealestateschool.com. Data diverifikasi dari Kemendikdasmen, ANTARA, Kompas, CNN Indonesia, Tribunnews, dan KalderaNews.







