trecsrealestateschool.com, 01 MEI 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) merupakan inisiatif strategis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang bertujuan untuk memantapkan kompetensi dokter dan dokter gigi baru sebelum mereka memasuki praktik mandiri. Program ini dirancang untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia, khususnya melalui pendekatan pelayanan kesehatan primer yang menekankan upaya promotif dan preventif. Selain itu, PIDI juga memiliki fokus pada edukasi kesehatan masyarakat dan penguatan internal profesi kedokteran melalui pelatihan berbasis kompetensi. Dengan durasi satu tahun untuk dokter umum dan enam bulan untuk dokter gigi, program ini wajib diikuti oleh lulusan program profesi kedokteran dan kedokteran gigi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, sesuai dengan regulasi yang berlaku. Artikel ini akan mengulas secara mendalam tentang Program Internship Edukasi dan Internal Dokter Indonesia, mencakup latar belakang, tujuan, mekanisme pelaksanaan, persyaratan, tantangan, dan dampaknya, berdasarkan sumber terpercaya hingga Juni 2025.
Latar Belakang Program Internship Dokter Indonesia

Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) diinisiasi untuk menjawab kebutuhan akan dokter dan dokter gigi yang profesional, kompeten, dan siap menghadapi tantangan pelayanan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran dan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 39 Tahun 2017, setiap dokter dan dokter gigi warga negara Indonesia yang telah lulus program profesi wajib mengikuti internship sebelum memperoleh izin praktik penuh. Program ini dikembangkan sejak 2003 oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) dan Kolegium Dokter Indonesia, dengan pelaksanaan operasional diserahkan kepada Kementerian Kesehatan sejak 2010.
PIDI bertujuan untuk menyelaraskan hasil pendidikan kedokteran dengan praktik di lapangan, memastikan dokter baru dapat mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional dalam pelayanan kesehatan. Fokus edukasi mencakup pemberian informasi kesehatan kepada masyarakat, seperti pencegahan penyakit kronis, sementara aspek internal menekankan pemahiran kompetensi klinis dan etika profesi. Program ini juga mendukung pemerataan tenaga kesehatan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK).
Sejak pelaksanaannya, PIDI telah melibatkan ribuan dokter dan dokter gigi, dengan wahana pelatihan di rumah sakit dan puskesmas yang telah disertifikasi oleh Komite Internship Dokter Indonesia(KIDI). Hingga 2018, lebih dari 4.774 dokter dari 39 fakultas kedokteran telah mengikuti program ini di 429 rumah sakit dan 598 puskesmas di 26 provinsi.
Tujuan Program Internship 
Program Internship Dokter Indonesia memiliki tujuan utama sebagai berikut:
-
Pemahiran dan Pemandirian: Membantu dokter dan dokter gigi baru mempraktikkan dan memantapkan kompetensi yang diperoleh selama pendidikan, secara mandiri dan terintegrasi, dengan pendekatan kedokteran keluarga.
-
Penyesuaian Kompetensi: Menyesuaikan kemampuan dokter dengan kondisi lapangan, terutama di pelayanan kesehatan primer seperti puskesmas, yang menekankan upaya promotif dan preventif.
-
Pemerataan Pelayanan Kesehatan: Memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah terpencil, untuk mendukung akses kesehatan yang adil.
-
Edukasi Masyarakat: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan melalui kegiatan penyuluhan, seperti edukasi tentang diabetes mellitus atau pencegahan penyakit menular.
-
Penguatan Internal Profesi: Mengembangkan sikap profesional, etika kedokteran, dan kemampuan kerja sama antarprofesi dalam sistem pelayanan kesehatan.
Mekanisme Pelaksanaan Program 
Struktur Program
PIDI terdiri dari dua jenis program:
-
Internship Dokter Umum: Dilaksanakan selama satu tahun, terdiri dari 6 bulan di rumah sakit dan 6 bulan di puskesmas.
-
Internship Dokter Gigi: Dilaksanakan selama enam bulan, terdiri dari 3 bulan di rumah sakit dan 3 bulan di puskesmas.
Wahana internship adalah fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) yang telah memenuhi standar KIDI, seperti rumah sakit umum daerah (RSUD) dan puskesmas. Peserta didampingi oleh dokter atau dokter gigi pendamping yang telah dilatih oleh Kementerian Kesehatan. Jika wahana tidak memiliki pendamping, dokter senior dari fasyankes lain atau yang ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan (Dirjen Nakes) akan bertindak sebagai pembimbing.
Persyaratan Peserta
Untuk mengikuti PIDI, calon peserta harus memenuhi persyaratan berikut:
-
Warga Negara Indonesia (WNI) lulusan program profesi dokter atau dokter gigi dari dalam negeri, atau WNI lulusan luar negeri yang telah mengikuti program adaptasi.
-
Memiliki Sertifikat Kompetensi yang diterbitkan dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun.
-
Lulus Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) atau Ujian Kompetensi Dokter Gigi (UKMP2DG).
-
Memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) Internship dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).
-
Memiliki Surat Izin Praktik (SIP) Internship yang diterbitkan oleh pemerintah daerah setempat.
-
Mendaftar melalui laman resmi Kementerian Kesehatan (https://internsip.kemkes.go.id) dengan melampirkan dokumen seperti STR Internship, transkrip nilai UKMPPD, dan pakta integritas.
Proses Pendaftaran dan Penempatan
-
Pendaftaran: Calon peserta membuat akun di laman SIMPIDI (Sistem Informasi Manajemen Program Internship Dokter Indonesia) dan mengunggah dokumen yang diperlukan. Pendaftaran biasanya dibuka beberapa kali dalam setahun, seperti periode Februari 2024 yang dibuka dari 28 Desember 2023 hingga 13 Januari 2024.
-
Verifikasi: Dirjen Nakes memverifikasi dokumen pendaftaran untuk memastikan kelengkapan dan keabsahan.
-
Pemilihan Wahana: Peserta dapat memilih wahana melalui tiga mekanisme:
-
Lokal: Memilih wahana di provinsi sesuai kartu keluarga (KK).
-
Regional: Memilih tiga provinsi dalam satu wilayah regional, kecuali provinsi sesuai KK.
-
Nasional: Memilih tiga provinsi di seluruh Indonesia, kecuali provinsi sesuai KK.
-
Peserta dengan kondisi khusus (misalnya, kehamilan atau kebutuhan kesehatan) dapat memilih wahana DTPK dengan prioritas berdasarkan nilai UKMPPD dan waktu kelulusan.
-
-
Penempatan: Setelah pemilihan wahana, peserta mengunggah pakta integritas bermaterai Rp10.000 sebagai tanda kesiapan ditempatkan. Penempatan diumumkan oleh KIDI Pusat, dan peserta diberangkatkan sesuai jadwal, seperti Februari 2024 untuk angkatan I.
-
Pembekalan: Sebelum memulai, peserta mengikuti pembekalan yang mencakup tugas, etika profesi, dan adaptasi budaya lokal. Dokter pendamping juga mendapatkan pelatihan khusus.
Kegiatan Internship
Selama program, peserta melakukan berbagai kegiatan, termasuk:
-
Pelayanan Klinis: Menangani pasien di rumah sakit dan puskesmas di bawah supervisi, dengan fokus pada pelayanan primer.
-
Edukasi Kesehatan: Melakukan penyuluhan kepada masyarakat, seperti edukasi tentang pengelolaan diabetes mellitus tipe II, pencegahan malaria, atau pola hidup sehat. Contohnya, laporan dari Puskesmas Adiwerna pada 2014 menunjukkan peserta internship memberikan edukasi kepada pasien diabetes tentang pengelolaan penyakit dan pencegahan komplikasi.
-
Penguatan Internal: Mengembangkan keterampilan klinis, seperti anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penentuan terapi, serta mematuhi etika profesi dan regulasi fasyankes.
-
Laporan dan Evaluasi: Peserta wajib menyusun laporan kegiatan, seperti logbook, dan mengikuti evaluasi berkala oleh pendamping dan KIDI.
Setelah menyelesaikan program, peserta menerima Surat Tanda Selesai Internship (STSI) dari KIDI Pusat, yang menjadi syarat untuk memperoleh STR penuh dan izin praktik mandiri.
Fokus Edukasi dan Internal
Edukasi Kesehatan
Edukasi adalah komponen kunci PIDI, terutama di puskesmas, di mana dokter internship berperan dalam upaya promotif dan preventif. Kegiatan edukasi meliputi:
-
Penyuluhan Komunitas: Mengedukasi masyarakat tentang pencegahan penyakit, seperti diabetes, hipertensi, atau infeksi menular. Contohnya, pada 2014, seorang dokter internship di Puskesmas Adiwerna memberikan edukasi kepada pasien diabetes tentang pengelolaan diet dan pencegahan komplikasi.
-
Konseling Pasien: Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang penyakit, terapi, dan gaya hidup sehat.
-
Kampanye Kesehatan: Berpartisipasi dalam program imunisasi, skrining kesehatan, atau kampanye antirokok.
Edukasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengurangi beban penyakit kronis, yang merupakan tantangan besar di Indonesia.
Penguatan Internal
Aspek internal PIDI fokus pada pengembangan kompetensi dan profesionalisme dokter, meliputi:
-
Kompetensi Klinis: Peserta dilatih untuk mengintegrasikan pengetahuan teoretis dengan praktik klinis, seperti melakukan diagnosis, merencanakan terapi, dan menangani kasus darurat.
-
Etika Profesi: Peserta wajib mematuhi kode etik kedokteran, menjaga kerahasiaan pasien, dan bekerja dalam batas kewenangan klinis.
-
Adaptasi Budaya: Dokter internship, terutama yang ditempatkan di daerah terpencil, dilatih untuk beradaptasi dengan budaya lokal dan berkomunikasi efektif dengan masyarakat.
-
Kerja Sama Tim: Program ini mengajarkan kerja sama dengan tenaga kesehatan lain, seperti perawat, bidan, dan ahli gizi, untuk memberikan pelayanan yang holistik.
Regulasi dan Dukungan
PIDI diatur oleh sejumlah regulasi, termasuk:
-
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran: Mengamanatkan internship sebagai bagian dari pendidikan profesi.
-
Permenkes Nomor 39 Tahun 2017: Mengatur penyelenggaraan PIDI, termasuk persyaratan, durasi, dan tanggung jawab peserta.
-
Permenkes Nomor 7 Tahun 2022: Memperbarui ketentuan PIDI, termasuk mekanisme penempatan dan insentif.
-
Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2017: Menegaskan tujuan internship dokter gigi untuk penyesuaian kompetensi.
Peserta menerima Bantuan Biaya Hidup (BBH) sebesar Rp2,5 juta per bulan dari Kementerian Kesehatan, ditransfer langsung ke rekening masing-masing oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN). Beberapa daerah juga memberikan insentif tambahan antara Rp1 juta hingga Rp6 juta per bulan, tergantung kemampuan fiskal pemerintah daerah. BBH di daerah DTPK lebih tinggi untuk mendorong penempatan di wilayah terpencil.
Tantangan Program
-
Ketidakmerataan Wahana: Beberapa daerah, terutama DTPK, kekurangan fasyankes yang memenuhi standar sebagai wahana internship, menyebabkan penumpukan peserta di daerah urban.
-
Kesejahteraan Peserta: BBH yang rendah, seperti Rp1,1 juta sebelum revisi 2023, memicu keluhan di media sosial karena tidak sebanding dengan beban kerja dan biaya hidup.
-
Kematian Peserta: Kasus seperti kematian dr. Dionisius Giri Samudera pada 2015 di Kepulauan Aru menyoroti risiko kesehatan di daerah terpencil dan kurangnya fasilitas medis yang memadai.
-
Koordinasi Antarinstansi: Tanggung jawab antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, dan IDI sering tumpang tindih, menyebabkan ketidakjelasan dalam penanganan masalah.
-
Keterlambatan Pelaksanaan PIDGI: Program internship dokter gigi baru dimulai secara efektif setelah 2022, meskipun diwajibkan sejak 2013, karena kendala regulasi dan logistik.
Dampak Program
-
Peningkatan Kompetensi: Evaluasi pada 2013 oleh FKUI, FK Unair, dan FK UGM menunjukkan PIDI mematangkan dokter dalam pelayanan kesehatan primer dan meningkatkan keselamatan pasien.
-
Pemerataan Tenaga Kesehatan: Program ini telah menempatkan dokter di daerah terpencil, seperti Kalimantan Tengah dan Kepulauan Aru, mendukung akses kesehatan masyarakat.
-
Edukasi Masyarakat: Kegiatan penyuluhan oleh peserta telah meningkatkan kesadaran kesehatan, seperti pengelolaan penyakit kronis di komunitas lokal.
-
Penguatan Sistem Kesehatan: PIDI mendukung pelayanan primer di puskesmas, mengurangi beban rumah sakit dan memperkuat sistem rujukan.
Hubungan dengan Guinea-Bissau
Meskipun tidak ada hubungan langsung antara PIDI dan Guinea-Bissau, kedua negara memiliki tantangan serupa dalam pemerataan tenaga kesehatan di daerah terpencil. Indonesia dan Guinea-Bissau, sebagai anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI), dapat berbagi pengalaman dalam pelatihan dokter. Guinea-Bissau, dengan sistem kesehatan yang terbatas dan prevalensi penyakit tropis seperti malaria, dapat mengadopsi model edukasi masyarakat yang diterapkan dalam PIDI. Kerja sama bilateral, seperti yang ditunjukkan oleh Nota Kesepahaman 2017, dapat diperluas ke pelatihan kesehatan.
Rekomendasi
-
Peningkatan BBH: Sesuaikan BBH dengan upah minimum regional dan inflasi untuk meningkatkan kesejahteraan peserta.
-
Perluasan Wahana: Tambah jumlah wahana di DTPK dengan meningkatkan fasilitas kesehatan dan pelatihan pendamping.
-
Penguatan Edukasi: Integrasikan teknologi, seperti aplikasi kesehatan, dalam kegiatan penyuluhan untuk menjangkau komunitas yang lebih luas.
-
Koordinasi Antarinstansi: Bentuk satuan tugas lintas kementerian untuk menyelesaikan tumpang tindih tanggung jawab.
-
Kerja Sama Internasional: Jalin kerja sama dengan negara seperti Guinea-Bissau untuk berbagi praktik terbaik dalam pelatihan dokter dan edukasi kesehatan.
Kesimpulan
Program Internship Edukasi dan Internal Dokter Indonesia (PIDI) adalah langkah strategis untuk memantapkan kompetensi dokter dan dokter gigi baru, sekaligus mendukung pemerataan pelayanan kesehatan di Indonesia. Dengan fokus pada edukasi masyarakat dan penguatan internal profesi, program ini telah memberikan dampak positif dalam meningkatkan mutu pelayanan primer dan kesadaran kesehatan. Meskipun menghadapi tantangan seperti kesejahteraan peserta dan ketidakmerataan wahana, PIDI terus berkembang melalui revisi regulasi dan evaluasi berkala. Dengan pengelolaan yang lebih baik dan kerja sama internasional, termasuk dengan negara seperti Guinea-Bissau, PIDI dapat menjadi model pelatihan tenaga kesehatan yang efektif, memastikan dokter Indonesia siap menghadapi tantangan kesehatan di era global.
BACA JUGA: Dampak Positif dan Negatif Media Sosial di Era 2025: Peluang dan Tantangan dalam Kehidupan Digital
BACA JUGA: Tim Berners-Lee: Pencetus World Wide Web dan Karya Revolusioner yang Mengubah Dunia
BACA JUGA: Pengertian dan Perbedaan Paham Komunisme Menurut Marxisme: Analisis Mendalam







